Tampilkan postingan dengan label Rezeki Kita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rezeki Kita. Tampilkan semua postingan

Amalan Yang Mendatangkan Rezeki

Dengan Takwa, Allah akan beri jalan keluar (dari segala perkara yang menyusahkan), dan memberinya rezeki dari jalan yang tidak terlintas di hatinya. (QS At- Talaq [65]:2-3)

Perbanyaklah melakukan amalan-amalan yang mendatangkan rezeki : 
  • Banyak beristighfar , Rasulullah bersabda, "Barang siapa memperbanyak istigfar maka Allah SWT akan menghapuskan segala kedukaannya, menyelesaikan segala masalahnya dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka." (HR Ahmad, Abu Daud, an-Nasa'i, Ibnu Majah dan Al -Hakim dari Abdullah bin Abbas ra.)
  • Menjauhkan maksiat dan dosa
  • Berbakti kepada orang tua,  Rasulullah berpesan, siapa yang ingin panjang umur dan ditambahi rezekinya, hendaklah berbakti kepada ibu bapanya dan menyambung tali silaturrahim.  

  •  Menolong orang lain,  Rasulullah bersabda : "Tidaklah kamu diberi pertolongan dan diberi rezeki melainkan karena orang-orang lemah di kalangan kamu." (HR Bukhari)
  • Menjalin silaturrahim, Rasulullah bersabda, "Barang siapa ingin dilapangkan rezekinya dan dilambatkan ajalnya maka hendaklah dia menghubungi sanak saudaranya." (HR Bukhari)
  •  Senantiasa dalam kondisi suci (berwudhu) 
  •  Perbanyak Bersedekah, Sedekah mengundang rahmat Allah dan menyebabkan Allah membuka pintu rezeki baginya. Rasulullah bersabda kepada Zubair bin Awwam, "Hai Zubair, ketahuilah bahw kunci rezeki hamba itu di atas Arasy, yang dikirim oleh Allah azza wajalla kepada setiap hamba sekedar nafkahya. Maka siapa yang memperbanyak sedekah kepada orang lain, niscaya Allah memperbanyak baginya. Dan siapa yang menyedikitkan, niscaya Allah menyedikitkan baginya." (HR Daruquthni dari Anas ra.)

  • Shalat Tahajud dan dhuha
  • Mensyukuri segala nikmat, Allah berfirman : "sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku tambahkan nikmat-Ku kepadamu, dan sesungguhnya jika kamu kufur, sesungguhnya azab-Ku amat pedih." (QS Ibrahim {14}:17)
  • Berikhtiar sekuat tenaga
  •  Bertawakkal setelah berusaha
  • Banyak zikir dan berdoa, Zikir atau ingat Allah membuat hati tenang dan kehidupan terasa lapang. Berdoa dan berzikir menjadikan seorang hamba dekat denan Allah, penuh bergantung dan mengharap pada rahmat dan pemberian dari-Nya.
"THE POWER OF SHALAT DHUHA" Ust. Zezen Zainal Alim

Enam Penghalang Rezeki Datang

Jika rezeki kita tertahan atau jika Allah SWT menahan pemberian rezeki untuk kita, bisa jadi hal itu karena kesalahan prosedur kita dalam mengambil atau menerimanya. Setidaknya ada beberapa hal yang menyebabkannya : 

Pertama : rezeki kita terhalang karena hilangnya ketakwakalan dalam diri kita. Artinya, dalam proses pencarian rezeki itu, kita tidak lagi menaruh kepercayaan kepada Allah. Ketika kita mendapati kejadian yang tidak diharapkan, kita bukannya mencari hikmah dan pelajarannya, malah mengeluhkan nasib, mencerca keadilan Allah dan menyimpan prasangka-prasangka buruk lain tentang Allah.
"Barang siapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya" (QS At-Thalaaq [65];3)

Kedua : rezeki kita terhalang karena perbuatan dosa dan maksiat. Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya, seorang terjauh dari rezeki disebabkan oleh perbuatan dosanya" (HR Ahmad)

Ketiga : rezeki kita terhalang karena proses pencarian rezeki yang tidak bersih. Tidak jarang limpahan harta benda kita itu habis terbelanjakan untuk keperluan-keperluan tak terduga. misalnya untuk pengobatan, perturutkan hawa nafsu, demi pamor, gaya hidup yang semrawut dan lainnya. Berkah dari rezeki yang kita peroleh tidak kita miliki.

Keempat : rezeki kita terhalang karena kesibukan yang melalaikan kita dari mengingat Allah. Tanpa terpenuhinya kebutuhan spiritual, kita akan merasa kurang seberapa banyak pun limpahan rezeki yang kita peroleh.

Kelima : rezeki kita terhalang karena keengganan berinfak dan bersedekah. Padahal dengan berinfak dan bersedekah justru bisa menjadi cara kita untuk memancing datangnya keuntungan ukhrawi tetapi juga duniawi. Bahkan Allah berjanji untuk melipatgandakan nilai infak kita hingga 700 kali lipat. (QS Al Baqarah [2]:261)

Keenam : rezeki kita terhalang karena pemahaman kita yang kurang tepat tentang makna kecukupan. Kebutuhan tidak pernah habis-habisnya. Keterbatasan rezeki bukanlah halangan  untuk merasakan kebahagiaan. Umar berkata, seperti dikutip Syaikh Nawawi Al-Bantani (2005:94) "Aku telah melihat semua harta, tetapi tidak ada yang lebih utama dibandingkan qana'ah".

"THE POWER OF SHALAT DHUHA" Ust. Zezen Zainal Alim

Saya Sudah Berusaha, Tapi Masih Saja Susah..

Assalamualaikum..
"Wa'alaikum salam.."
"Bagaimana khabarnya ? sudah lama kita tak jumpa ? Bisnisnya apa sekarang ?
"Yah beginilah, masih seperti dulu.. Anda gimana ?"
Alhamdulillah.. Biasalah sibuk dengan pekerjan kantor dan bisnis. Koq nadanya rada pesimis gitu, Coba usaha..
"Do'a sudah, usaha juga sudah tapi masih juga susah, mungkin ini memang takdirnya. Saya jalani saja.."
Hal yang sangat sering kita dengar.. Ucapan yang penuh harap dan berakhir dengan pesimistis. Tanpa sadar kita sudah menciptakan diri kita jadi orang "susah". Padahal Allah tidak pernah menciptakan mahkluknya untuk hidup susah.

Seperti yang pernah disampaikan salah seorang pengarang buku dan trainer terkenal di Indonesia, kita terlalu sering suudzon terhadap Allah. Doa kita diawalai dengan yang baik-baik, meminta dan memohon. " Ya Allah berikanlah aku rezeki, agar bisa menafkahi anak dan istriku, turunkanlah rezeki untuk biaya anakku bersekolah dan lainya". Tidak berselang lama setelah berdoa, kita malah pertanyakan doa kita dan meragukan Yang Maha Mengabulkan Do'a. "Kira-kira darimana ya dapatnya ?" Seringkali kita melakukannya. Jangan salahkan Allah jika akhirnya kita susah terus, bukankah kita yang memintanya. Harusnya kita diberi, akhirnya batal. Kau bilang susah, ok. Susah.. Kau ragu akan kebesaran Alllah dalam mengabulkan do'a, oke. Batal rezekinya..

Bukankah kita sendiri yang memintanya ? Yang dikabulkan Allah adalah akhir dari fikir kita. Celakanya kita selalu melakukannya, tanpa sadar.. Apa kita tidak pernah berfikir bahwa hidup adalah rotasi yang berpasangan, ada susah ada senang, ada tawa ada tangis, ada malam ada siang. Jadi kalau kita telah merasakan susah, setelahnya pasti kita akan merasakan bahagia.. Tidak mungkin susah terus atau senang terus.

Yang perlu kita lakukan adalah menyerahkankan segala seuatunya kepada Allah, tanpa perlu memikirkan apakah yang terjadi besok, apakah kita akan mendapatkannya atau tidak. Kita hanya wajib berikhtiar, jalani dan terima. Toh, walaupun kepala jadi kaki, kaki jadi kepala caranya kita berusaha, kalau memang bukan rezeki kita tidak akan pernah kita terima. Dada akan terasa lapang, dan hidup lebih tenang bebas stress kalau kita tawakkal setelah berikhtiar. Tanamkan keyakinan bahwa Allah yang mendatangkannya dan Allah tidak mungkin menyengsarakan umatnya. 

Lebih baik kita intropeksi diri, apakah kita layak menerima rezeki seperti yang diterima orang lain. Ibaratnya, kendi tidak mungkin menerima air satu tanki. Bisa pecah berntakan.. Menetes lebih bisa ditampung kalau itu dijaga dan sesuai dengan tempatnya..

Rezeki, Darimana dan bagaimana mendapatkannya ?

Setiap hari kita disibukkan dengan pencarian nafkah, baik untuk sendiri, buah hati belahan jantung maupun kekasih hati atau ibu dari anak-anak kita. Setiap hari dan terus tanpa henti.

Apakah memang kita harus seperti itu ? Pernahkah terpikir untuk berhenti sejenak ? Apa yang sebenarnya kita cari di dunia ini ? Hidup dan bertahan hidup ? atau hidup untuk hidup lagi..

Pantaskah hidup yang begitu singkat dihabiskan untuk mengejar "sesuatu" yang akhirnya tidak pernah bisa kita miliki dan berakhir ketika azan terakhir dikumandangkan di telinga kita ?

Lalu apa yang perlu kita lakukan agar hidup lebih bermakna dan searah dengan jalan untuk lebih dekat mengenal Sang Khalik ? Pikiran kita penuh dengan pertanyaan dimana dan bagaimana segala kebutuhan kita terpenuhi hingga melupakan yang memberi kita rezeki.

Seperti kalimat bijak dalam sebuah buku "Cahaya Sufi" mengatakan, "Jangan pandang cahaya nanti kau tersesat tapi pandanglah arah cahaya agar kau tahu jalannya". Kita bersujud atas limpahan rezeki-Nya, tapi lupa pada yang memberikannya. Kita bersyukur atas dikabulkannya do'a dan lupa siapa yang menurunkannya. Kita terlena dengan nikmatnya ibadah dan lupa pada yang memerintahkannya.

Setiap yang hidup sudah tersedia reekinya. Dan Allah telah mencukupinya, itu pasti..! Segalanya telah tercatat dan akan kita jalani selama hidup kita. Apakah ada yang kebetulan ? Omong Kosong.. Tidak ada yang kebetulan, semuanya adalah takdir yang sudah digariskan. Ihktiar hanyalah bentuk zahir kita dalam menjalankan takdir kita. Lalu apakah kita berserah diri ? Toh nasib dan takdir kita sudah ditentukan. Itulah gunanya akal dan fikir. Allah yang menetpkan, Dia juga yang merubahnya.

Doa sebagai sarana yang langsung berhubungan dengan Allah SWT, meminta dan berharap hanya kepadaNya adalah cara untuk merubah sesuatu yang "mustahil" di dunia ini. Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum, jika kaum itu tidak merubah nasibnya.

Yakinlah bahwa hidup kita sudah dicukupkan Allah, segala sesuatunya terjadi karena kehendakNya. Jadi, jangan penuhi pikiran dengan materi dunia semata yang fana. Jangankan perbuatan buruk, berbuat baikpun tanpa ijinNya tidak akan terjadi.

Serahkan segala sesuatunya pada Allah, dan kewajiban kita hanya berikhtiar sebagai alat untuk mencari tahu apakah itu jalan yang telah ditetapkan bagi kita. Biarkan hidup mengarahkan kita untuk tetap berfikir dan berzikir hingga kita bisa lebih dekat dengan Allah. Jilakalau kita sudah ridha akan ketetapannya, maka yang namanya rezeki datang tanpa pernah kita duga datangnya darimana dan kita pun akan takjub dengan arah dan jumlahnya. Ingatlah, Allah tergantung prasangka hambaNya. Jika kita telah menggantungkan rezeki dan hidup kita terhadapa apa yang kita fikirkan dan bayangkan, maka itulah yang kita terima. Syirik tipis sekali perbedaannya. Astagfirullah..

Ramadhan, Rezeki ada saja

1 Ramadhan 1432 Hijriah

Kring..kring... jreng..jreng..
Siapa lagi nih yang call, jangan-jangan orang nagih utang atau pelanggaan yang pesan barang..
Halo..?
"Bapak, saya ridoq."
Doq, ada apa ?
"Kapan ke pondok ?"
Insya Allah besok..
"Bawakan saya uang, khusus untk baya makan di asrama selama bulan puasa.."
Ok, besok saya bawakan. Ada yang lain ?
"Ada, Mana mama ? dan bla... bla... bla..

Coba lihat dompet, eh nda ada. Sudahlah nanti dipikirkan. Dipikirkan juga nda akan jadi uang. Lebih baik siap-siap dulu, keluar dari rumah dulu. Ezeki nda bisa datang kalau nda dicari.

Hp bunyi lagi..
Ok bos, ntar saya bawakan. jam berapa ? dan seterusnya...
Alhamdulillah, pesanan datang walau barang orang tapi sistem bagi hasil dapat juga duit.

Rasulullah menyuruh kita menuntut ilmu sampai akhir hayat. Ingin dapat dunia dengan ilmu, ingin dapat akhirat dengan ilmu. Kalau nda pakai ilmu, pakai apa ? dengkul..
Terkadang keraguan melanda, kira-kira biaya untuk sekolah anak cukup tidak ya ? nanti makannya apakai apa ya ? Manusia koq mirkirnya sempit sekali. Yang menciptakan Allah, maka Dia juga yang mencukupinya. Ilmu adalah amal jariah yang berkahnya akan terus diterima sampai kiamat kalau bermanfaat dan diamalkan. Wajar Islam mengutamakannnya. Keyakinan saya adalah setiap yang menuntut ilmu karena Lillahita'ala pasti ada rezekinya. Karena keutamaanya orang berilmu lebih dari orang yang ahli ibadah. 

Jadi, Allah pasti menjaganya. Karena ilmu yaang dituntutnya adalah ilmu Allah. Ihktiarnya dengan cara bersekolah, mengaji, dan belajar dari pengalaman. Daun yang gugur ke bumi pun terjadi karena kehendak Allah, lalu mengapa masih ragu ? Yakin, dan haqqul yaqin.